Log in
Similar topics
Who is online?
In total there are 2 users online :: 0 Registered, 0 Hidden and 2 Guests :: 1 BotNone
Most users ever online was 123 on Mon Jun 30, 2008 10:03 pm
Statistics
We have 935 registered usersThe newest registered user is Slogan
Our users have posted a total of 57751 messages in 1698 subjects
Top posters
| Admin (4097) | ||||
| mekganu (3628) | ||||
| Juang (3492) | ||||
| penditaputra (3027) | ||||
| tokkmudim (2844) | ||||
| Kalam (2631) | ||||
| myra_roses (2534) | ||||
| zafran0512 (2315) | ||||
| FeLiSeWoMaN (2310) | ||||
| tajuNM (2159) |
Beza Ketetapan Allah dengan ketetapan manusia
e-mindakita :: Minda Umum :: Islam
Page 2 of 2 • Share •
Page 2 of 2 •
1, 2
Re: Beza Ketetapan Allah dengan ketetapan manusia
Zulia wrote:jika Allah telah menetapkan solat, logikkah anda menolaknya sebab tidak diterima oleh akal anda?
Salam,
Saya hanya menolak ketetapan-ketetapan manusia dalam perihal solat itu. Umpamanya Allah tak pernah suruh pun dalam bersolat kena mengadap ke arah batu atau sebagainya. Maka saya takkan buat ketetapan manusia yang suruh mengadap ke sesuatu arah hatta ke arah matahari sekali pun.

Juang- Dekan
- Number of posts: 3492
State:
Reputation: 6
Credits: 5307
Registration date: 2008-08-26
Re: Beza Ketetapan Allah dengan ketetapan manusia
faried wrote:
Orang yang beriman kepada petunjuk Alquran haruslah menolak "hadith" karena selain Alquran mestilah termasuk Lahwal Hadith.
Salam,
Saya setuju dengan pendapat saudara Faried. Selain Al Quran, mestilah termasuk dalam lahwal hadis sebab Al Quran itu termasuk dalam hasanul hadis. Takkanlah kita nak kata Al Quran itu lahwal hadis dan selain Al Quran itu hasanul hadis?

Juang- Dekan
- Number of posts: 3492
State:
Reputation: 6
Credits: 5307
Registration date: 2008-08-26
Re: Beza Ketetapan Allah dengan ketetapan manusia
Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutus mu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (An-Nisa’: 80)
Ketaatan kepada Nabi akan membawa kepada sikap mahu mengikuti beliau (ittiba’). Tidak ada ketaatan yang mutlak, kecuali dilakukan kepada manusia yang membawa kebenaran dari Allah swt. Ketaatan kepada Rasulullah saw. pada hakikatnya merupakan ketaatan kepada Allah. Manusia wajib taat kepada Allah, kemudian Allah menegaskan bahwa ketaatan kepada Rasul adalah sebagian dari ketaatan kepada-Nya. Maka, ketaatan kepada Rasul wajib juga untuk umat Islam dan memiliki makna yang mendalam.
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa mu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 31)
Yang kita lakukan dalam konteks beribadah, bermuamalah dan berakidah harus mengikuti Rasulullah saw., sebagaimana telah dicontohkan oleh beliau. Para ulama membuat sebuah kaidah: hal-hal yang berkaitan dengan masalah ibadah dan akidah hukum dasarnya tidak boleh, kecuali apa yang dicontohkan Rasulullah saw. dan ada dalil yang mengatakan boleh. Sedangkan hal-hal yang berkaitan dengan muamalah (hubungan sesama umat manusia) hukum dasarnya adalah boleh, kecuali bila ada dalil yang mengatakan tidak boleh. Ittiba’ ini merupakan bagian dari rasa cinta kita kepada Rasulullah saw. Mencintai Allah tak akan mungkin terjadi kecuali kita sungguh-sungguh mencintai Rasulullah saw.
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab: 40)
Nabi Muhammad adalah nabi terakhir, penutup para nabi. Tidak ada lagi nabi, rasul, dan wahyu setelahnya. Umat Islam tidak perlu terjebak akan adanya klaim dari manusia yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang nabi. Jika pun ada,boleh dipastikan bahwa hal itu palsu.Tidak perlu diikuti bahkan harus diingkari. Akidah tentang khatmun nubuwwah (Muhammad nabi terakhir) akan membebaskan kita dari masalah teologis. Kita tidak perlu lagi mencari ajaran-ajaran kewahyuan di luar ajaran Nabi saw.
Ketaatan kepada Nabi akan membawa kepada sikap mahu mengikuti beliau (ittiba’). Tidak ada ketaatan yang mutlak, kecuali dilakukan kepada manusia yang membawa kebenaran dari Allah swt. Ketaatan kepada Rasulullah saw. pada hakikatnya merupakan ketaatan kepada Allah. Manusia wajib taat kepada Allah, kemudian Allah menegaskan bahwa ketaatan kepada Rasul adalah sebagian dari ketaatan kepada-Nya. Maka, ketaatan kepada Rasul wajib juga untuk umat Islam dan memiliki makna yang mendalam.
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa mu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 31)
Yang kita lakukan dalam konteks beribadah, bermuamalah dan berakidah harus mengikuti Rasulullah saw., sebagaimana telah dicontohkan oleh beliau. Para ulama membuat sebuah kaidah: hal-hal yang berkaitan dengan masalah ibadah dan akidah hukum dasarnya tidak boleh, kecuali apa yang dicontohkan Rasulullah saw. dan ada dalil yang mengatakan boleh. Sedangkan hal-hal yang berkaitan dengan muamalah (hubungan sesama umat manusia) hukum dasarnya adalah boleh, kecuali bila ada dalil yang mengatakan tidak boleh. Ittiba’ ini merupakan bagian dari rasa cinta kita kepada Rasulullah saw. Mencintai Allah tak akan mungkin terjadi kecuali kita sungguh-sungguh mencintai Rasulullah saw.
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab: 40)
Nabi Muhammad adalah nabi terakhir, penutup para nabi. Tidak ada lagi nabi, rasul, dan wahyu setelahnya. Umat Islam tidak perlu terjebak akan adanya klaim dari manusia yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang nabi. Jika pun ada,boleh dipastikan bahwa hal itu palsu.Tidak perlu diikuti bahkan harus diingkari. Akidah tentang khatmun nubuwwah (Muhammad nabi terakhir) akan membebaskan kita dari masalah teologis. Kita tidak perlu lagi mencari ajaran-ajaran kewahyuan di luar ajaran Nabi saw.

Zahabur- Pensyarah
- Number of posts: 535
Reputation: 9
Credits: 1672
Registration date: 2009-04-23
Re: Beza Ketetapan Allah dengan ketetapan manusia
Zahabur wrote:
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzab: 40)
Nabi Muhammad adalah nabi terakhir, penutup para nabi. Tidak ada lagi nabi, rasul, dan wahyu setelahnya. Umat Islam tidak perlu terjebak akan adanya klaim dari manusia yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang nabi. Jika pun ada,boleh dipastikan bahwa hal itu palsu.Tidak perlu diikuti bahkan harus diingkari. Akidah tentang khatmun nubuwwah (Muhammad nabi terakhir) akan membebaskan kita dari masalah teologis. Kita tidak perlu lagi mencari ajaran-ajaran kewahyuan di luar ajaran Nabi saw.
Dalam Surah Al-Ahzab, ayat 40 di atas jelas menyatakan Muhammad itu adalah penutup nabi-nabi. Jadi, saya setuju jika ada kenyataan tiada lagi nabi setelah beliau.
Pun begitu, pernyataan ayat yg sama bersambung tidak ada lagi rasul dan wahyu setelahnya. Tanpa bersandarkan ayat al-quran tuan membuat kesimpulan sendiri. Atau adakah tuan lupa untuk menyatakan surah dan ayat mana yg mengatakan tidak ada lagi rasul dan wahyu selepas Muhammad?
Tolonglah...janganlah mereka-reka sesuatu yang kita belum pasti sama ada ianya ada atau tiada.

Admin- Canselor
- Number of posts: 4097
State:
Reputation: 8
Credits: 3394
Registration date: 2008-04-07
Re: Beza Ketetapan Allah dengan ketetapan manusia
Salam Admin,
Begitulah sifat orang-orang yang berdusta. mereka suka mengada-adakan ketetapan tanpa mampu kemukakan ayat-ayat Al Quran manakah menunjukkan Allah tidak akan turunkan wahyu dan tidak akan bangkitkan Rasul selepas Nabi Muhammad.
Bukankah yang menetapkan hukum di antara langit dan bumi adalah Allah? Apakah mereka rasa diri mereka setara atau lebih hebat daripada Allah untuk mengada-adakan hukum yang Allah tidak pernah letakkan?
Begitulah sifat orang-orang yang berdusta. mereka suka mengada-adakan ketetapan tanpa mampu kemukakan ayat-ayat Al Quran manakah menunjukkan Allah tidak akan turunkan wahyu dan tidak akan bangkitkan Rasul selepas Nabi Muhammad.
Bukankah yang menetapkan hukum di antara langit dan bumi adalah Allah? Apakah mereka rasa diri mereka setara atau lebih hebat daripada Allah untuk mengada-adakan hukum yang Allah tidak pernah letakkan?

Juang- Dekan
- Number of posts: 3492
State:
Reputation: 6
Credits: 5307
Registration date: 2008-08-26
Re: Beza Ketetapan Allah dengan ketetapan manusia
40:68. Dia yang menghidupkan, dan mematikan; apabila Dia menentukan sesuatu perkara, Dia hanya berkata padanya, "Jadilah", dan jadilah ia.
Ayat di atas memberi petunjuk kepada kita bagaimana sifat sesuatu yang Allah tetapkan/tentukan/putuskan/hukumkan. Apabila Dia menetapkan sesuatu, pasti ia akan terjadi. Umpama untuk jadi orang yang berilmu, kita disuruh supaya belajar dan memahami. Bila kita lakukan apa yang Allah tetapkan itu, pasti akan terjadi tidak kiralah kita bangsa atau agama apa sekali pun.
Jadi bila datang orang-orang tertentu membawa sesuatu ketetapan dan ketetapan itu tidak terjadi, itu menunjukkan bukan Allah yang menetapkan. Umpamanya mereka kata nak terjemah atau tafsir Al Quran, kena rujuk kitab riwayat karangan imam-imam tertentu. Maka sepatutnya orang yang terjemah atau tafsir Al Quran tanpa guna kitab riwayat pasti membawa terjemahan atau tafsiran yang bercanggah antara satu sama lain dan mudah dipatahkan. Tetapi yang kita lihat, mereka yang buat ketetapan kena guna kitab riwayat itulah yang gagal bawa terjemahan atau tafsiran yang masuk akal. Itu menunjukkan ketetapan yang mereka ada-adakan bukan daripada Allah kerana ia tidak menjadi.
Ayat di atas memberi petunjuk kepada kita bagaimana sifat sesuatu yang Allah tetapkan/tentukan/putuskan/hukumkan. Apabila Dia menetapkan sesuatu, pasti ia akan terjadi. Umpama untuk jadi orang yang berilmu, kita disuruh supaya belajar dan memahami. Bila kita lakukan apa yang Allah tetapkan itu, pasti akan terjadi tidak kiralah kita bangsa atau agama apa sekali pun.
Jadi bila datang orang-orang tertentu membawa sesuatu ketetapan dan ketetapan itu tidak terjadi, itu menunjukkan bukan Allah yang menetapkan. Umpamanya mereka kata nak terjemah atau tafsir Al Quran, kena rujuk kitab riwayat karangan imam-imam tertentu. Maka sepatutnya orang yang terjemah atau tafsir Al Quran tanpa guna kitab riwayat pasti membawa terjemahan atau tafsiran yang bercanggah antara satu sama lain dan mudah dipatahkan. Tetapi yang kita lihat, mereka yang buat ketetapan kena guna kitab riwayat itulah yang gagal bawa terjemahan atau tafsiran yang masuk akal. Itu menunjukkan ketetapan yang mereka ada-adakan bukan daripada Allah kerana ia tidak menjadi.

Juang- Dekan
- Number of posts: 3492
State:
Reputation: 6
Credits: 5307
Registration date: 2008-08-26
Re: Beza Ketetapan Allah dengan ketetapan manusia
stupid! all from answer from mr cow & buffalo, mr akai

semut api- Doktor Falsafah
- Number of posts: 1482
Reputation: 3
Credits: 2620
Registration date: 2009-04-26
Re: Beza Ketetapan Allah dengan ketetapan manusia
Salam,
Yang gagal kemukakan bukti lagi gagal mengawal emosi.
Yang gagal kemukakan bukti lagi gagal mengawal emosi.

Juang- Dekan
- Number of posts: 3492
State:
Reputation: 6
Credits: 5307
Registration date: 2008-08-26
Page 2 of 2 •
1, 2
Similar topics» manusia terkecil di dunia
» Internet membawa kebaikan kepada manusia?
» Membuat Aplikasi Chating Dengan PHP
» Menikahi Dia? Tapi Bagaimana Dengan Gadis Yang Disana?
» Original branded perfume dengan harga yang lebih murah
» Internet membawa kebaikan kepada manusia?
» Membuat Aplikasi Chating Dengan PHP
» Menikahi Dia? Tapi Bagaimana Dengan Gadis Yang Disana?
» Original branded perfume dengan harga yang lebih murah
e-mindakita :: Minda Umum :: Islam
Page 2 of 2
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum